Marching
SELEKSI MALLET DAN APLIKASI PADA  KEYBOARD PERCUSS.jpg
SELEKSI MALLET DAN APLIKASI PADA KEYBOARD PERCUSS
SELEKSI MALLET DAN APLIKASI PADA
KEYBOARD PERCUSSION
Oleh: Gin Gin Kamil

Seiring dengan semakin berkembangnya dunia pit di tanah air, baik perkembangan alat, teknik bermain, hingga jenis perlombaan yang dipertandingkan, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah penggunaan mallet di seksi pit. Pada clinic kali ini kita akan membahas pemilihan mallet yang tepat dan aplikasinya disesuaikan dengan kebutuhan pemain, lebih khusus lagi pada keyboard percussion. Aplikasi yang dimaksud yaitu penggunaan yang disarankan untuk permainan solo, pit ensemble, maupun full band dalam unit marching band.
Sebenarnya tidak ada penggunaan aturan yang baku dalam pemilihan mallet, semua merujuk kepada faktor selera, kebiasaan, kenyamanan, karakter, kebutuhan proyeksi dan produksi suara, dan banyak pertimbangan personal lainnya. Namun kita bisa mendapatkan banyak referensi dari kebiasaan-kebiasaan pemain lain yang secara umum memiliki kesamaan dalam pilihannya. Dengan demikian pemaparan berikut hanyalah sebagai acuan, dan pemilihan akhirnya terpulang kepada masing-masing pemain dalam mengambil keputusan penggunaan mallet.

Anatomi Mallet
Untuk mendapatkan jenis suara yang kita inginkan dari mallet yang akan kita pilih, perlu diketahui mengenai anatomi mallet, karena dengan informasi yang tepat kita akan lebih mengerti tentang pilihan kita dan kegunaanya. Karakter suara mallet ini sebenarnya berkaitan erat pula dengan jenis, tipe, dan merek alat yang dipakai, namun kali ini hal-hal tersebut kita kesampingkan dulu.


A. Gagang Mallet
Ada beberapa jenis material gagang mallet yang kita kenal, yaitu:
1. Kayu Birch. Gagang berbahan dasar kayu memiliki karakteristik yang kaku, diameter yang kecil, umumnya digunakan untuk marimba, khususnya pengguna Steven’s (Independent) Grip. Dengan grip ini, diameter yang kecil dan kaku akan memberikan kenyamanan bagi jari-jari dalam menggenggam mallet, gagang mallet lebih mudah untuk dibuat panjang sehingga memberikan jangkauan yang lebih luas bagi pemain marimba.
2. Rotan. Gagang rotan memiliki karakteristik yang fleksibel dan lentur, diameter berukuran sedang, dan panjangnya seperti kebanyakan mallet pada umumnya. Penggunaannya kebanyakan untuk vibraphone dan bagi pengguna Burton (Cross) Grip, walaupun ada juga pengguna mallet rotan untuk marimba. Dengan fleksibilitasnya, gagang rotan banyak juga dipilih untuk permainan cepat pada xylophone dan glockenspiel.
3. Two-step-handle. Material gagang ini adalah serat fiber dan plastik, umumnya berwarna putih. Karakternya sangat lentur dan fleksibel, digunakan untuk semua jenis alat. Preferensi penggunaannya adalah untuk pemula yang belajar karena sangat lentur, juga memudahkan pemain pemula dalam mengontrol pergerakan mallet. Jenis ini tidak disarankan untuk penggunaan intermediate dan advance dalam penampilan.
4. Nylon. Material ini biasa kita sebut dengan gagang plastik. Karakter dan penggunaannya sama dengan two-step-handle.

B. Bandul Mallet
Kombinasi inti, bentuk, dan permukaan mallet sangat menentukan warna suara, sehingga pilihan dari ketiga kombinasi ini perlu diperhatikan untuk mendapatkan karakter yang diinginkan.
1. Material inti mallet yang umum disesuaikan dengan lunak-keras mallet, sehingga terdapat gradasi kekerasan mallet, yaitu:
a. Karet, karakternya hangat dan tebal, lalu dibuat kekerasan yang gradual hingga karet yang keras, lalu untuk kebutuhan proyeksi suara yang kuat dibuatlah karet sintetik dengan maksud untuk tetap menjaga karakter atau warna suara bahan karet yang tebal dan hangat di semua alat.
b. Nylon, karakternya suara yang kuat dan warna suara yang cenderung tajam namun cukup tebal. Jenis ini juga memiliki kekerasan yang gradual, tapi tidak seluas karet. Jenis bandul ini preferensi yang baik untuk xylophone dan glockenspiel sesuai dengan kebutuhan artikulasinya.
c. Acrylic (Lexan), umumnya bening, sama halnya dengan nylon namun lebih tajam, fokus dan jernih pada xylophone sintetik dan glockenspiel.
d. Phenolic. Bahan sintetik ini sangat keras dan artikulasi yang sangat tajam. Penggunaannya hanya diperuntukkan pada xylophone berbahan sintetik pula dan glockenspiel. Sangat tidak diperbolehkan digunakan pada xylophone kayu, karena sangat berpotensi untuk merusak bilah kayu.
e. Brass. Material logam, sangat keras, hanya digunakan untuk steel glockenspiel. Sangat tidak diperbolehkan digunakan pada glockenspiel alumunium, karena sangat berpotensi untuk merusak.
f. Kayu. Material kayu tidak terlalu umum, karena hanya digunakan pada xylophone kayu, untuk mendapatkan karakter atau warna suara klasik, akustik, dan tradisional.
2. Bentuk bandul mallet juga mempengaruhi karakter suara, ada beberapa bentuk, antara lain:
a. Round Ball Shape. Bentuk bulat murni, karakter suara yang tebal dan hangat pada marimba dan vibraphone. Sangat hangat pada register rendah. Bentuk bandul ini dipergunakan secara umum untuk semua mallet xylophone dan glockenspiel untuk mendapatkan warna suara yang spesifik.
b. Spherical Shape. Bentuk seperti roda, karakter suara yang lebih fokus dan jernih pada marimba dan vibraphone. Preferensi untuk permainan yang cepat dan register tinggi.
c. Mushroom Shape. Berbentuk setengah bola, karakter suara yang tebal dan kaya warna, bisa juga artikulasi yang lebih jernih dengan tetap mempertahankan warna suara alat. Kebanyakan bentuk ini dipilih untuk bermain vibraphone.
3. Wrapping
Perlunya mallet di gulung dengan benang pada prinsipnya adalah untuk menghindari hentakan yang berlebihan dari inti bandul mallet. Gulungan benang yang longgar akan mendapatkan warna suara lebih hangat, sedangkan gulungan benang yang lebih ketat akan mendapatkan suara yang lebih jernih. Jumlah gulungan dan ketebalannya sangat relatif sesuai kebutuhan gradasi kekerasan mallet.
a. Wool/Acrylic Yarn, bahan yang lembut bagi pemain yang ingin menghindari kontak langsung antara inti bandul dengan bilah, utamanya untuk mendapatkan warna suara yang lebih hangat dan tebal pada marimba. Walaupun ada, jenis ini jarang dipergunakan untuk vibraphone.
b. Cotton Cord, bahan yang lebih tebal dan kuat, untuk menghindari hentakan inti bandul tapi tetap mendapatkan artikulasi dan warna suara. Lebih banyak dipilih penggunaannya untuk vibraphone.
c. Nylon Cord, digunakan untuk vibraphone pada pemakaian  outdoor marching band, untuk mendapatkan proyeksi suara yang lebih tajam dan kuat tanpa menghilangkan karakter suara alat.
d. Unwrapped Mallets, bandul tanpa pelapis apapun, pada marimba atau vibraphone dikarenakan kebutuhan proyeksi suara yang khusus utamanya menambah volume dan kejernihan. Ada beberapa jenis unwrapped dengan beberapa variasi yang dikhususkan untuk ensemble akustik. Begitu pula umumnya untuk mallet xylophone dan glockenspiel.
4. Diameter bandul akan berpengaruh pada ketebalan warna suara, sederhananya bandul dengan diameter besar akan memberikan suara yang lebih hangat dan tebal pada wilayah register bawah, dan sebaliknya untuk mendapatkan kejernihan suara pada register atas digunakan bandul yang berdiameter lebih kecil.
5. Berat mallet, miskonspesi tentang proyeksi suara karena kerasnya mallet perlu diluruskan, bahwa semakin keras mallet justru timbre akan semakin tipis, sebaliknya mallet yang lunak akan lebih kaya timbre. Oleh karenanya, untuk meningkatkan volume suara dibutuhkan mallet yang lebih berat. Beberapa jenis mallet untuk keperluan outdoor marching band menggunakan inti bandul karet yang berat bahkan diperberat dengan menambahkan ring besi atau tambalan besi pada inti mallet.

C. Mallet Multi-timbre
Prinsip dasar karakteristik mallet adalah kombinasi dari berbagai macam hal yang telah dipaparkan di atas. Salah satu jenis hibrida dari kombinasi tersebut adalah mallet dengan multi-timbre. Jenis ini berspesifikasi khusus, untuk marimba atau vibraphone dibuat dengan material inti yang relatif keras tapi dibalut dengan gulungan benang yang lebih longgar, dengan kata lain tidak terlalu ketat. Dengan demikian akan diperoleh karakter suara yang cukup lembut pada dinamika bawah, dan juga didapat suara yang cukup keras pada dinamika yang tinggi.

Aplikasi Mallet
Karakter mallet yang berbeda tentu diaplikasikan pada keadaan yang berbeda pula. Hal ini perlu dipertimbangkan agar tidak salah dalam memilih mallet, utamanya dalam penampilan di sebuah kompetisi yang sangat menuntut musikalitas tinggi dan kesempurnaan.

A. Marching Band
Pada awal dekade ini kompetisi DCI di Amerika Serikat sudah memperbolehkan amplifikasi secara elektronik untuk seksi pit demi proyeksi suara yang berimbang dengan brass dan battery, dampaknya adalah penggunaan mallet akan menjadi lebih berkarakter daripada hanya sekedar kuat secara volume. Pilihan mallet lebih selektif sesuai karakter lagu dan warna suara yang diinginkan. Signature mallets yang dikreasikan oleh para instruktur perkusi untuk seksi pit saat ini mengakomodir penggunaan satu jenis mallet yang bisa dipakai untuk outdoor maupun indoor.
Kompetisi marching band di tanah air masih belum memperbolehkan amplifikasi elektronik pada seksi pit, sehingga keadaannya jadi berbeda dengan di Amerika Serikat.  Pada akhirnya tetap kekerasan dan ketebalan suara untuk mendapatkan proyeksi yang kuat menjadi pilihan utama dalam mengimbangi suara brass dan battery. Tips dalam penggunaan jenis mallet yang keras adalah hindari over tone dan over attack pada bilah, tetap bermain dengan musikalitas yang baik, jauhkan paradigma tentang pit tidak cukup keras dan bahkan hampir tidak terdengar. Pilihan yang disarankan adalah medium-hard, hard, dan very hard.
Untuk jenis lagu lembut, sesuaikan volume dan karakter lagunya. Pilihannya adalah medium-soft dan medium. Hindari mallet soft karena tidak akan terdengar sama sekali, kecuali dalam keadaan yang sangat khusus seperti pemakaian di low register.
B. Indoor Pit Ensemble
Gunakan tipe mallet sebanyak mungkin sesuai materi lagu dan kebutuhan proyeksi suaranya, mulai dari extra-soft sampai extra-hard pada marimba dan vibraphone, pilihan dark dan bright pada xylophone. Semakin luas timbre suara semakin baik, mengingat dalam pit ensemble seluruh alat pit menjadi dominan baik melodi, harmoni, maupun ritmik. Pastikan setiap alat memunculkan karakter yang penuh dengan seleksi mallet yang tepat.
C. Solo Performance
Saat ini sudah mulai banyak perlombaan solo keyboard percussion di individual contest event kompetisi marching band. Namun sangat disayangkan walaupun permainan cukup baik secara teknik sering dijumpai kekurangan hanya karena kurang tepat dalam pemilihan jenis mallet. Masih banyak peserta lomba yang menggunakan mallet marching untuk permainan solo pada individual contest. Tidak bisa dikatakan salah, namun repertoire yang ditampilkankan umumnya repertoire solo klasik, bukan jenis musik marching, sehingga perlu penyesuaian dengan seleksi mallet.
 Untuk penampilan solo, gunakan mallet yang sesuai dengan materi solo. Seandainya ada, concert/soloist/artist series adalah pilihan yang tepat. Untuk solo marimba dan vibraphone dalam beberapa repertoire membutuhkan kombinasi dengan 4 mallet. Apakah dibutuhkan general mallets untuk seluruh repertoire, atau ada kebutuhan mengganti pasangan mallet pada kalimat lagu tertentu. Coba cari referensi sebanyak mungkin tentang pencipta repertoire, karena biasanya akan terdapat informasi seleksi mallet yang disarankan. Berikut contoh penggunaan kombinasi 4 mallet  repertoire solo (ki-ka), yang klip videonya sering kita jumpai di Youtube:
1. “Polaris”, Mark Ford: Med Hard-Hard-Hard-Hard
2.  “Dream of the Cherry Blossoms”, Keiko Abe: Soft-Med Soft-Med Soft-Med Hard
3. “Wind in the Bamboo Grove”, Keiko Abe: Soft-Soft-Med Soft-Med Soft
4. “Rhythmic Caprice”,  Leigh Howard Stevens: Med Hard-Hard-Hard-Hard

Akhir kata, lakukan eksplorasi sebanyak mungkin pilihan-pilihan mallet yang sesuai, dan sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa tidak ada aturan yang baku mengenai seleksi mallet, yang terpenting junjung tinggi musikalitas, rasa, dan selera agar penampilan bisa dinikmati oleh diri sendiri dan penikmat musik. Salam Pit!
______________________
Referensi: 1. Situs Marimbalogy, 2. Mallet Explained oleh Vinson Han, 3. Insights for Front Ensemble Mallet Selections oleh Jim Casella, 4. Pengalaman penulis, 5.  Bahan tulisan  lain dari berbagai sumber.